Kunjungan

Sabtu, 23 Juni 2012

Nilai Ujian Nasional Semakin Fenomenal

Tahun 2012 ini adalah tahun dimana saya harus berkutat kembali dengan masalah pendidikan. Bukan pendidikan saya tapi adik bungsu saya yang baru saja lulus Sekolah Dasar (SD). Sudah lama tidak memantau bagaimana kondisi pendidikan SD, SMP hingga SMA membuat saya tercengang ketika hendak mendaftarkan adik saya ke jenjang SMP.

Masih ingat dibenak saya di tahun 1999 ketika saya duduk di bangku kelas 6 dan harus menghadapi ujian akhir nasional (UAN) yang saat itu terdiri dari 5 mata pelajaran. Saat itu saya masih ingat nilai DANUN saya hanya 39 koma sekian, tidak istimewa tapi sudah lebih dari cukup untuk modal ke SMP negeri saat itu. Saya juga masih ingat rata2 teman2 SD saya memiliki DANUN kisaran 36 hingga paling tinggi 43. Bagi saya, andai bisa dapat 40 saja sudah bagus karena rata2 nilai UAN berarti sudah 8.

Lain dulu lain dengan sekarang, tahun 2012 ini Ujian Nasional SD memuat 3 mata pelajaran saja yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Adik bungsu saya termasuk 5 besar di kelasnya, bukan tipe murid yang rajin belajar tapi cepat menangkap pelajaran sehingga bukan hal yg sulit untuk dapat masuk 5 besar di kelasnya. Ketika hendak menghadapi Ujian Nasional tidak ada kekhawatiran apapun karena saya optimis adik saya mampu lulus dan tentunya dengan nilai yang baik.
Ketika pengumuman kelulusan disampaikan, saya biasa saja karena memang sudah pasti adik saya lulus. Namun ketika pengumuman nilai disampaikan, justru saya kaget saat mendengar adik saya memperoleh nilai ujian nasional akhir 27,30 yang artinya rata2 9,10. Sebuah angka yang menurut akal saya sudah sangat bagus dibandingkan jaman SD saya. Dalam bayangan saya saat itu, dengan modal rata2 9,10 mestinya bukan hal yang sulit untuk menembus SMP negeri. Namun ternyata asumsi saya salah, ketika mengikuti Penerimaan Peserta Didik Baru di Sidoarjo saya sangat terkejut karena ternyata apalah arti dari sebuah nilai 27,00. Nilai tersebut masih bisa dibilang "pas-pas'an" untuk modal bersaing masuk SMP negeri.
Waw, dalam hati saya langsung berpikir "apakah bangsa ini sudah sedemikian cerdasnya ?'
sebuah tanda tanya besar karena dalam jangka waktu 13 tahun negara berhasil meningkatkan rata2 nilai Ujian Nasional sedemikian hebatnya. Nilai 27,00 boleh dibilang sangat pasaran, begitu pula dengan nilai 28,00 hingga mendekati 29,00. Bahkan ketika saya melihat di internet saya kembali terkejut melihat nilai tertinggi ujian nasional bisa dicetak dengan nilai 29,75 dengan 2 mata pelajaran sempurna alias 10,00 !!!!
Sungguh angka yang sangat fantastis, namun justru membuat saya semakin skeptis dengan standar/kompetensi yang diterapkan pemerintah

Nilai bagus memang membanggakan, namun kalau menjadi nilai "pasaran" justru akan sulit untuk membedakan murid yang cukup pintar, pintar dan sangat pintar karena perbedaannya tipis. informasi yang saya terima, soal ujian nasional diisi dengan 10% soal mudah, 80% soal sedang dan 10% soal sulit. Nah murid cukup pintar, pintar dan sangat pintar tentunya tidak akan kesulitan mengerjakan soal mudah dan sedang, namun perbedaan ketiganya seharusnya akan terlihat ketika mengerjakan soal-soal yang sulit. Akibatnya justru ada kecenderunganm murid yang sangat pintar menjadi terlihat biasa saja dibanding murid yang "memang biasa-biasa saja" karena perbedaan nilai yang tidak signifikan. Tidak jarang murid yang biasa-biasa saja justru terlihat lebih unggul nilai UANnya dibandingkan murid yang selama sekolah terlihat menonjol.

Besar harapan saya ke depan pemerintah melalui menteri pendidikan mencermati hal ini dengan meningkatkan mutu soal yang akan diujikan agar dapat terlihat jelas potensi siswa yang sesungguhnya.
Asumsi saya adalah, kalo 10% soal mudah dan 70 - 80% soal sedang bisa dikerjakan maka setidaknya sudah bisa dapat nilai 8,00 - 9,00. Maka tidak heran jika nilai ujian nasional 27,00 menjadi pasaran.

Inilah Indonesia, lain dulu lain sekarang, susah menjaga konsistensi. Ini baru yang saya amati dari nilai ujian nasional SD, untuk nilai ujian SMP bisa dikira2 sendiri seperti apa karena yang saya lihat "kurang lebih sama dengan dahsyatnya nilai SD"